Jumat, 18 September 2009

from manual to a digital world


Masih inget gak sih dulu waktu kita masih SD, di saat-saat menjelang hari raya, entah itu lebaran, natal maupun tahun baru, pasti kita dan teman-teman sejawat (ciee, sejawat...) sibuk kirim-kiriman kartu lebaran. dan yang pasti para tukang pos, alias pak pos mencapai puncak kesibukan di saat-saat itu. karena bayangkan saja, mereka harus menyampaikan ratusan, ribuan atau bahkan jutaan kartu pos yang berisikan kata-kata sakti. dan membayangkan bagaimana senangnya sang penerima pos, menerima kartu posnya tepat waktu. Pasti si pak pos senang sekali yaa...

Namun, sadar atau tidak hal istimewa itu perlahan kita tinggalkan. tentu saja karena kemajuan teknologi yang memudahkan manusia dalam berkomunikasi, contohnya HP atau telepon gengam, e-mail, facebook dan twitter. sebenarnya hal ini ada baik dan tidaknya. Baiknya, kita dapat bersama-sama mengurangi pemakaian kertas, efisiensi dalam penggunaan waktu, turut mencegah global warming dan masih banyak hal positif lainya. akan tetapi dilain pihak juga terjadi dilema, karena tentu saja dengan berkurangnya pengguna jasa pos yang beralih ke telepon gengam maupun facebook dan twitter, tentu saja berdampak besar kepada para orang-orang yang berkerja di jasa antar-mengantar ini. tentu saja si pak pos akan sedikit mengantarkan surat dan kartu pos, sedikit orang yang membeli kartu pos, sedikit orang yang membeli perangko.

Hadeeehhh, jadi dilema ya?? disisi lain kita mengandalkan teknologi yang menjadikan segalanya lebih efiseien, tapi dilain sisi ada orang-orang yang menjadi rugi karena kemajuan teknologi...terus kira-kira masih ada gak ya istilah sahabat pena? ituloh, pertemanan yang terjalin dari kirim-mengirim surat. atau malah sekarang yang ada sahabat facebook, persahabatan yang terjalin via facebook??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar